Senin, 08 Juli 2013

Budaya Organisasi


PENGERTIAN BUDAYA ORGANISASI 
Budaya organisasi adalah sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari organisasi-organisasi lainnya. Sistem makna bersama ini adalah sekumpulan karakteristi kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi. 
Budaya membedakan masyarakat satu dengan yang lain dalam cara berinteraksi dan bertindak menyelesaikan suatu pekerjaan. Budaya mengikat anggota kelompok masyarakat menjadi satu kesatuan pandangan yang menciptakan keseragaman berperilaku atau bertindak. Seiring dengan bergulirnya waktu, budaya pasti terbentuk dalam organisasi dan dapat pula dirasakan manfaatnya dalam memberi kontribusi bagi efektivitas organisasi secara keseluruhan.
Budaya organisasi dapat mempengaruhi cara orang dalam berperilaku dan harus menjadi patokan dalam setiap program pengembangan organisasi dan kebijakan yang diambil. Hal ini terkait dengan bagaimana budaya  itu mempengaruhi organisasi dan bagaimana suatu budaya itu dapat dikelola oleh organisasi. Berikut ini dikemukakan beberapa pengertian budaya organisasi menurut beberapa ahli :

Menurut Wood, Wallace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, Osborn (2001:391), budaya organisasi adalah sistem yang dipercayai dan nilai yang dikembangkan oleh organisasi dimana hal itu menuntun perilaku dari anggota organisasi itu sendiri.
Menurut Tosi, Rizzo, Carroll seperti yang dikutip oleh Munandar (2001:263), budaya organisasi adalah cara-cara berpikir, berperasaan dan bereaksi berdasarkan pola-pola tertentu yang ada dalam organisasi atau yang ada pada bagian-bagian organisasi.
Menurut Robbins (1996:289), budaya organisasi adalah suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi itu.
Menurut Schein (1992:12), budaya organisasi adalah pola dasar yang diterima oleh organisasi untuk bertindak dan memecahkan masalah, membentuk karyawan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan dan mempersatukan anggota-anggota organisasi. Untuk itu harus diajarkan kepada anggota termasuk anggota yang baru sebagai suatu cara yang benar dalam mengkaji, berpikir dan merasakan masalah yang dihadapi.

FUNGSI BUDAYA ORGANISASI
Menurut Robbins (1996 : 294), fungsi budaya organisasi sebagai berikut :
Budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dan yang lain.
Budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi.
Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri individual seseorang.
Budaya merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk dilakukan oleh karyawan.
Budaya sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku karyawan.

TIPOPOLOGI BUDAYA ORGANISASI
Pengertian Tipologi merupakan suatu pengelompokan bahasa berdasarkan ciri khas tata kata dan tata kalimatnya (Mallinson dan Blake,1981:1-3).
Tipologi budaya organisasi bertujuan untuk menunjukkan aneka budaya organisasi yang mungkin ada di realitas, Tipologi budaya organisasi dapat diturunkan dari tipologi organisasi misalnya dengan membagi tipe organisasi dengan membuat tabulasi silang antara jenis kekuasaan dengan jenis keterlibatan individu di dalam organisasi.

Jenis kekuasaan dan keterlibatan individu dalam organisasi dibagi menjadi :
Koersif
Remuneratif
Normatif

Organisasi Koersif, adalah organisasi di mana para anggota organisasi harus mematuhi apapun peraturan yang diberlakukan.
Organisasi Utilitarian, adalah organisasi di mana para anggota diperlakukan secara adil dalam pekerjaan dan hasil sesuai dengan standart atau ketentuan yang yang disepakati bersama oleh anggota organisasi
Organisasi Normatif, adalah organisasi di mana para anggota organisasinya memberikan kontribusi tinggi pada komitmen karena menganggap organisasi adalah sama dengan tujuan diri mereka sendiri.



Daftar Pustaka:
Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_organisasi, 8/7/2013
Dhino Ambargo, http://dhino-ambargo.blogspot.com/2013/05/pengertian-dan-fungsi-budaya-organisasi.html,  8/7/2013
Ambarwadi, http://ambarwadi.blogspot.com/2010/04/pengertian-budaya-organisasi.html 8/7/2013
http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/pengertian-budaya-organisasi.html, 8/7/2013
Candra Zulisman, http://candra-zulisman.blogspot.com/2013/04/budaya-organisasi-tipopologi-budaya.html, 8/7/2013

Sabtu, 08 Juni 2013

Imbalan Dan Hukuman Dalam Organisasi

Imbalan
Definisi imbalan meurut beberapa sumber
“Compensation is the human resoures management function that deals with every type of reward individuals recive in exchange for performing organization tasks” (ivancevich, 1998). Kompensasi adalah manajemen sumber daya manusia yang berkaitan dengan semua bentuk penghargaan yang di janjikan akan di terima karyawan sebagai imbalan dari peaksanaan tugas dalam upaya pencapaian tujuan perusaaan.
            Kompensasi adalah setiap bentuk penghargaan yang di berikan kepada karyawan sebagai balas jasa atas konstribusi yang mereka berikan kepada orang. (Panggabean, 2002:75)
            Kompensasi adalah keseluruhan balas jasa yang di terima oleh pegawai sebagai akibat pelaksanaan pekerjaan diorganisasi dalam bentuk uang atau lainnya, yaitu dapat berupa gaji, upah, bonus, intensif dan tunjangan lainnya seperti tunjangan kesehatan, tunjangan hari kerja, uang makan, uang cuti dan lain-lain. (Hariandja, 2002:224).
            Imbalan mempunyai cakupan yg lebih luas dari pada upah atau gaji. Imbalan mencakup semua penggeluaran yg di keluarkan oleh perusahaan untuk pekerja, baik secara langsungg, rutin, atau tidak langsung (pada suatu hari nanti). (Ruky, 2001:9)
            Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa imbalan atau kompensasi atau remunation bukanlah hanya imbalan yg berbentuk uang saja tetapi juga dalam bentuk-bentuk lainnya.

Tujuan
·         Memotivasi anggota organisasi
Sisitem imbalan yang di rancang oleh suatu organisasi harus mampu memacu motivasi kerja dari anggota organisasi agar berprestasi pada tigkat yang tinggi. Untuk itu imbalan yang di bentuk oleh organisasi harus memiliki nilai di mata organisasi.
·         Membuat kerasan pekerja yang sudah ada
Sistem imbalan yang di buat oleh suatu organisasi ditujukan untuk mempertahankan pekerja yang sudah ada terutama pekerja yang berkualitas agar mereka kerasan bekerja dan tidak mudah tertarik untuk pindah ke organisasi yang lainnya.

·         Untuk menace orang-orang berkualitas
Kemajuan suatu organisasi di tentukan oleh kualitas oran-orang yang ada didalamnya. Organisasi harus mampu menarik orang-orang yang berkualitas agar mereka tertarik untuk masuk kedalam organisasi. Salah satu daya tarik seseorang masuk bergabung kedalam suatu organisasi adalah system imbalan yang di bentuk dan di terapan oleh organisasi tersebut.

Hukuman
            Hukuman adalah suatu konsekuensi yang tidak menyenangkan terhadap suatu respons perilaku tertentu denan tujuan untuk memperlemah perilaku tersebut dan mengurangi frekuensi perilaku yang berikutnya. Ada tiga fungsi penting dari hukuman yang berperan besar bagi pembentukan tingkah laku yang di harapkan:
·         Membatasi perilaku. Hukuman menghalangi terjadinya pengulangan tingkah laku yang tidak diharapkan.
·          Bersifat mendidik
·         Memperkuat motivasi untuk menghindarkan diri dari tingkah laku yang tidak di harapkan.
Tujuan
Pertama, tujuan hukuman diasumsikan untuk mengurangi terjadinya perilaku yang menjadi sebab dihukum. Tetapi kalau cukup keras dan di terapkan melebihi rentang waktu tertentu. Hal ini juga menekan perilaku yang diinginkan. Kedua, beberapa mengasumsikan bahwa penggunaan hukuman akan menghasilkan akibat lain yang tidak di inginkan (seperti: kekhawatiran, agresifitas,  dll.). Mereka yang di hokum mungkin mencoba lari atau menghindar atau menunjukan sikap permusuhan seperti sabotase terhadap manajemen. Ketiga, akibat hukuman yang hanya bersifat sementara ancaman hukuman hilang respon yang tidak diinginkan akan kembali muncul. Jadi ancaman hukuman harus selalu ada atau digunakan hal ini dapat menghasilkan penguat yang positif bagi manajer untuk melanjutkan penggunaannya. Keempat, memalui pengamatan human dapat menghasilkan respon negative dari rekan kerja dari orang yang di huum.

Pengaruh imbalan terhadap kinerja dalam organisasi
            Diyakini imbalan dapat memotivasi prestasi, mengurangi perputaran tenaga kerja, mengurangi kemangkiran, dan mearik pencari kerja yang berkualitas kedalam organisasi. Oleh karenanya imbalan dapat di pakai sebagai dorongan atau motivasi pada suatu tingkat perilaku dan prestasidan dorongan pemilihan organisasi sebagai tempat bekerja. Sebagai tambahan imbalan juga dapat memenuhi hubungan kerja.

Pengaruh Hukuman terhadap kinerja dalam organisasi
            Hukuman memberikan batasan terhadap organisasi sehingga visi misi dapat tercapai. Lebih berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan yang dapat merugikan. Mengurangi resiko kesalahan dalam organisasi. Aktivitas organisasi berjalan lancar tanpa ada hambatan.

Daftar Pustaka:
http://limitationeye.wordpress.com/2013/06/definisi-imbalan-dan-hukuman-dalam-organisasi-beserta-dampaknya.html 08/06/2013 15:32
http://trisnumberone.blogspot.com/2013/05/imbalan-dan-hukuman-dalam-organisasi.html 08/06/2013 16:17

http://tugasnurullah.blogspot.com/2013/05/imbalan-dan-hukuman-dalam-organisasi.html 08/06/2013 17:07

Sabtu, 04 Mei 2013

Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi

T.O.U (2.2)


·        Definisi
Ralph C. Davis memberikan definisi atau atau pengertian keputusan sebagai hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas (Hasan, 2004). Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana semula.

Mary Follet memberikan definisi atau pengertian keputusan sebagai suatu atau sebagai hokum situasi. Apabila semua fakta dari situasi itu dapat diperolehnya dan semuayang terlibat, baik pengawas maupun pelaksana mau mentaati hukumannya atau ketentuannya, maka tidak sama dengan mentaati perintah. Wewenang tinggal dijalankan, tetapi itu merupakan wewenang dari hukum situasi.

James A.F.Stoner memberikan definisi keputusan sebagai pemilihan di antara alternative-alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu :
a)      Ada pilihan atas dasar logika atau pertimbangan.
b)      Ada beberapa alternative yang harus dan dipilih salah satu yang terbaik.
c)      Ada tujuan yang ingin dicapai, dan keputusan itu makin mendekatkan pada tujuan tertentu.

Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo, SH memberikan pengertian keputusan sebagai suatu pengakhiran daripada proses pemikiran tentang suatu masalah atau problem untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi masalah tersebut, dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternative.
Dari pengertian-pengertian keputusan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa KEPUTUSAN merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hokum situasi yang dilakukan melalui pemilihan satu alternative dari beberapa alternative.


·         Jenis-jeins Keputusan Organisasi
Jenis Keputusan dalam sebuah organisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut. Bagian mana organisasi harus  dilibatkan dalam mengambil keputusan, dan pada bagian organisasi mana keputusan tersebut difokuskan.

Secara garis besar keputusan digolongkan ke dalam keputusan rutin dan keputusan yang tidak rutin. Keputusan rutin adalah keputusan yang sifatnya rutin dan berulang-ulang, dan biasanya telah dikembangkan cara tertentu untuk mengendalikannya. Keputusan tidak rutin adalah keputusan yang diambil pada saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin.

Dalam mengambil keputusan, baik yang bersifat rutin maupun tidak, ada dua metode yang digunakan. Metode pertama adalah metode tradisional, dimana pengambilan keputusan lebih berdasarkan pada intuisi dan kebiasaan. Metode yang kedua adalah metode modern, dimana pengambilan keputusan  didasarkan pada perhitungan matematis dan penggunaan instrumen yang bersifat modern, seperti komputer dan perhitungan statistik.


·        Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
Dalam pengambilan keputusan ada beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain:

1.      Posisi kedudukan
Dalam kerangka pengambilan keputusan, posisi/kedudukan seseorang dapat dilihat, apakah ia sebagai pembuat keputusan (decision maker), penentu keputusan (decision taker), ataukah staff (staffer).

2.      Masalah
Masalah atau problem adalah apa yang menjadi penghalang untuk tercapainya tujuan, yang merupakan penyimpangan daripada apa yang diharapkan, direncanakan atau dikehendaki dan harus diselesaikan. Sebenarnya, masalah tidak selalu dapat dikenal dengan segera, ada yang memerlukan analisis, ada pula yang bahkan memerlukan riset tersendiri.

3.      Situasi
Situasi adalah keseluruhan faktor-faktor dalam keadaan, yang berkaitan satu sama lain, dan yang secara bersama-sama memancarkan pengaruh terhadap kita beserta apa yang hendak kita perbuat. Situasi ini ada yang bersifat tetap dan ada juga yang berubah-ubah.

4.      Kondisi
Kondisi adalah keseluruhan dari faktor-faktor yang secara bersama-sama menentukan daya gerak, daya berbuat atau kemampuan kita. Sebagian besar faktor-faktor tersebut merupakan sumber daya-sumber daya.

5.      Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai, baik tujuan perorangan, tujuan unit (kesatuan), tujuan organisasi, maupun tujuan usaha, pada umumnya telah tertentu / telah ditentukan. Tujuan yang telah ditentukan dalam pengambilan keputusan merupakan tujuan antara atau objectif.



Menurut Terry (1989) faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan sebagai berikut:

Hal-hal yang berwujud maupun tidak berwujud, yang emosional maupun rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan.
Setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi.
Setiap keputusan janganlah berorientasi pada kepentingan pribadi, perhatikan kepentingan orang lain.
Jarang sekali ada 1 pilihan yang memuaskan.
Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental. Dari tindakan mental ini kemudian harus diubah menjadi tindakan fisik.
Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang  cukup lama.
Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang baik.
Setiap keputusan hendaknya dikembangkan, agar dapat diketahui apakah keputusan yang diambil itu betul.
Setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya.



Kemudian terdapat enam faktor lain yang juga ikut mempengaruhi pengambilan keputusan, yaitu :

Fisik
Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.

Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.

Rasional
Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.

Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.

Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.

Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.



·        Daftar Pustaka
Ibnu Syamsi, S.U. 1995. Pengambilan keputusan dan sistem informasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Thoha,mifta. 1983.Perilaku Organisasi. Jakarta : Raja Gapindo persada.
Dessy Marantika. http://dessymarantika7.blogspot.com/2013/04/pengambilan-keputusan-dalam-organisasi.html. 02/05/2013. 17:09
Irma Mintuna. http://irma-mintuna.blogspot.com/2013/04/pengambilan-keputusan-dalam-organisasi.htm. 02/05/2013. 17:11
http://irpantips4u.blogspot.com/2012/11/pengambilan-keputusan-dalam-organisasi.html. 02/05/2013. 17:15

Jumat, 05 April 2013

Komunikasi dalam Organisasi Perusahaan

z
T.O.U(2.1)

·        Pengertian Komunikasi
Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”),secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latincommunicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.
Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia.

·        Pengertian Organisasi
Istilah organisasi berasal dari bahasa Latin organizare, yang secara harfiah berarti paduan dari bagian-bagian yang satu sama lainnya saling bergantung.
Everet M.Rogers dalam bukunya Communication in Organization, mendefinisikan organisasi sebagai suatu sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui jenjang kepangkatan, dan pembagian tugas.
Robert Bonnington dalam buku Modern Business: A Systems Approach, mendefinisikan organisasi sebagai sarana dimana manajemen mengoordinasikan sumber bahan dan sumber daya manusia melalui pola struktur formal dari tugas-tugas dan wewenang.

·        Hubungan Ilmu Komunikasi dengan Organisasi
Hubungan antara ilmu komunikasi dengan organisasi terletak pada peninjauannya yang terfokus kepada manusia-manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi itu. Ilmu komunikasi mempertanyakan bentuk komunikasi apa yang berlangsung dalam organisasi, metode dan teknik apa yang dipergunakan, media apa yang dipakai, bagaimana prosesnya, faktor-faktor apa yang menjadi penghambat, dan sebagainya. Jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah untuk bahan telaah untuk selanjutnya menyajikan suatu konsepsi komunikasi bagi suatu organisasi tertentu berdasarkan jenis organisasi, sifat organisasi, dan lingkup organisasi dengan memperhitungkan situasi tertentu pada saat komunikasi dilakukan.

·        Definisi Komunikasi Dalam Organisasi
Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005). Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya adalah memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.
Komunikasi dalam organisasi adalah juga dapat diartikan sebagai komunikasi di suatu organisasi yang dilakukan pimpinan, baik dengan para karyawan maupun dengan khalayak yang ada kaitannya dengan organisasi, dalam rangka pembinaan kerja sama yang serasi untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi (Effendy,1989: 214).
Komunikasi organisasi merupakan suatu proses dinamik yang berfungsi sebagai alat utama bagi sukses atau tidaknya organisasi dalam hubungannya dengan lingkungan tugas. Pincus (1986) menemukan komunikasi berhubungan positif dengan kinerja, tetapi tidak sekuat hubungan antara komunikasi dengan kepuasan. Chen et al., (2006) menyatakan komunikasi organisasi berhubungan positif dengan komitmen organisasi dan kinerja dan berhubungan negatif dengan tekanan pekerjaan. Namun demikian Rodwell (1998) menyatakan bahwa variabel komunikasi berhubungan negatif dengan kinerja.
Goldhaber (1986) memberikan definisi komunikasi dalam organisasi yaitu proses menciptakan dan saling menukar pesan dalam hubungan jaringan yang saling bergantung satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang selalu berubah-ubah. Dalam definisi komunikasi dalam perusahaan terdapat 7 konsep yaitu :
o   Proses
Dalam suatu organisasi kita menciptakan dan saling tukar menukar pesan antar anggota, hal ini berjalan terus-menerus dan tidak ada hentinya maka hal ini disebut sebagai proses.

o   Pesan
Pesan adalah susunan simbol yang penuh arti tentang orang, objek, kejadian yang dihasilkan oleh interaksi dengan orang.

o   Jaringan
Pertukaran pesan dari orang satu ke orang yang lain terjadi melewati suatu set jalan kecil yang dinamakan jaringan komunikasi. Peran tingkah laku dalam organisasi menentukan siapa yang menduduki posisi tertentu atau pun pekerjaan tertentu baik dinyatakan formal maupun informal.

o   Keadaan saling tergantung
Hal ini telah menjadi sifat dari suatu organisasi sistem terbuka. Jika suatu bagian dalam organisasi mengalami gangguan maka berpengaruh kepada bagian yang lain. Begitu juga dengan jaringan komunikasi dalam organisasi saling melengkapi.

o   Hubungan
Organisasi yang merupakan sistem terbuka, sistem kehidupan sosial maka untuk berfungsi bagian-bagian itu terletak ditangan manusia. Karena itu hubungan manusia dalam organisasi memfokuskan kepada tingkah laku. Hubungan manusia dalam organisasi mulai dari yang sederhana yaitu hubungan diantara dua orang, hubungan dalam kelompok-kelompok kecil,maupun besar dalam organisasi.

o   Lingkungan
Lingkungan secara fisik dan faktor sosial perlu diperhitungkan dalam pembuatan keputusan mengenai individu dalam suatu sistem.

o   Ketidakpastian
Ketidakpastian adalah perbedaan informasi yang ada dengan informasi yang diharapkan. Untuk mengurangi ketidakpastian organisasi menciptakan dan menukar pesan diantara anggota, melakukan penelitian, pengembangan organisasi, dan menghadapi tugas-tugas yang komplek dengan integrasi yang tinggi.

·        Fungsi Komunikasi dalam Organisasi
Sendjaja (1994) menyatakan fungsi komunikasi dalam organisasi adalah sebagai berikut:
a)      Fungsi informative
Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi. Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu.

b)      Fungsi regulative
Fungsi ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Terdapat dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif, yaitu:
o   Berkaitan dengan orang-orang yang berada dalam tataran manajemen, yaitu mereka yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan.
o   Berkaitan dengan pesan. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.

c)      Fungsi persuasive
Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah.

d)      Fungsi integrative
Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu:
o   Saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (buletin, newsletter) dan laporan kemajuan organisasi.
o   Saluran komunikasi informal seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan olahraga, ataupun kegiatan darmawisata.

·        Hambatan dalam Komunikasi
Di dalam komunikasi selalu ada hambatan yang dapat mengganggu kelancaran jalannya proses komunikasi. Sehingga informasi dan gagasan yang disampaikan tidak dapat diterima dan dimengerti dengan jelas oleh penerima pesan atau receiver. Menurut Ron Ludlow & Fergus Panton (1992,p.10-11), ada hambatan-hambatan yang menyebabkankomunikasi tidak efektif yaitu adalah :
o   Status effect
Adanya perbedaaan pengaruh status sosial yang dimiliki setiap manusia.Misalnya karyawan dengan status sosial yang lebih rendah harus tunduk dan patuh apapun perintah yang diberikan atasan. Maka karyawan tersebut tidak dapat atau takut mengemukakan aspirasinya atau pendapatnya.
o   Semantic Problems
Faktor semantik menyangkut bahasa yang dipergunakan komunikator sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaanya kepada komunikan. Demi kelancaran komunikasi seorang komunikator harus benar-benar memperhatikan gangguan sematis ini, sebab kesalahan pengucapan atau kesalahan dalam penulisan dapat menimbulkan salah pengertian (misunderstanding) atau penafsiran (misinterpretation) yang pada gilirannya bisa menimbulkan salah komunikasi (miscommunication).
o   Perceptual distorsion
Perceptual distorsion dapat disebabkan karena perbedaan cara pandangan yang sempit pada diri sendiri dan perbedaaan cara berpikir serta cara mengerti yang sempit terhadap orang lain. Sehingga dalam komunikasi terjadi perbedaan persepsi dan wawasan atau cara pandang antara satu dengan yang lainnya.
o   Cultural Differences
Hambatan yang terjadi karena disebabkan adanya perbedaan kebudayaan, agama dan lingkungan sosial. Dalam suatu organisasi terdapat beberapa suku, ras, dan bahasa yang berbeda. Sehingga ada beberapa kata-kata yang memiliki arti berbeda di tiap suku.
o   Physical Distractions
Hambatan ini disebabkan oleh gangguan lingkungan fisik terhadap proses berlangsungnya komunikasi.
o   Poor choice of communication channels
Adalah gangguan yang disebabkan pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi.
o   No Feed back
ambatan tersebut adalah seorang sender mengirimkan pesan kepada receiver tetapi tidak adanya respon dan tanggapan dari receiver maka yang terjadi adalah komunikasi satu arah yang sia-sia.

·        Komunikasi Dalam Organisasi Perusahaan
Perusahaan adalah suatu unit usaha yang salah satu tujuannya mendapatkan laba. Jika ingin mendapatkan laba pemilik perusahaan harus bekerjasama dengan karyawan yang ada didalam perusahaan tersebut. Mereka juga harus menjaga komunikasi dengan baik agar tidak terjadi kesalahpahaman. Karyawan nya juga harus mempunyai pengalaman dan keterampilan yang baik hingga jika pada saat mengeluarkan produksi atau pun rencana itu akan menjadi yang baik, dan mendapatkan produk yang berkualitas.
Dalam perusahaan ada yang dinamakan manajemen. Manajemen merupakan sekumpulan orang yang melakukan kegiatan planning ,organizing, leading dan controlling. Hubungan baik antara manajemen dengan karyawan akan berdampak baik pula bagi perusahaan. Ide-ide baru dari karyawan bisa menyelesaikan masalah yang terdapat dalam perusahaan tersebut. Produktivitas pun juga meningkat karena karyawan dengan suka rela memberikan tenaga dan pikiran pada perusahaan.
Diantara kedua belah pihak terjadi komunikasi timbal balik. Sehingga diperlukan kerja sama untuk yang diharapkan untuk mencapai cita-cita, baik pribadi maupun perusahaan. Dengan begitu dapat dengan mudah mereka dapat mencapai tujuan organisasi atau perusahaan yang diinginkan.

·         Daftar Pustaka
o   Adi Prakosa, Teori Komunikasi Organisasi, http://adiprakosa.blogspot.com/2007/12/teori-komunikasi-organisasi.html
o   Sifa Hartas, Komunikasi Dalam Organisasi, http://blogsiffahartas.blogspot.com/2011/07/komunikasi-dalam-organisasi.html


Kamis, 24 Januari 2013

Tokoh Politik

T.O.U.4

Susilo Bambang Yudhoyono

Di depan para peserta Indonesia Future Leaders Forum di Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berbicara soal kepemimpinan. Bukan hanya kepemimpinan dalam arti teoritis yang disampaikan Presiden, tetapi juga praktik keseharian yang ia jalankan sepanjang tujuh tahun pemerintahannya.
Presiden mengakui bahwa kepemimpinan yang ia jalankan bukan gaya kepemimpinan yang bisa dipakai oleh pemimpin yang lain. Setiap pemimpin pasti memiliki gaya kepemimpinannya sendiri dan itu sangat tergantung dari situasi dan tantangan yang dihadapi.
Gaya kepemimpinan yang ia jalankan sekarang, menurut Presiden merupakan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan era demokrasi. Presiden bahkan menegaskan, kalau dirinya cenderung untuk mengalah, cenderung memilih melakukan berkompromi dan membuat konsensus, karena ia tidak ingin kepemimpinan yang dijalankan menjadi otoriter.
Penjelasan SBY itu merupakan jawaban atas pertanyaan banyak pihak yang menilai Presiden sering ragu-ragu. Banyak pihak-yang diakui Presiden sendiri-sering akhirnya merasa gemas, karena banyak keputusan yang lamban untuk diambil.
Dengan penjelasan itu, maka kita tidak usah lagi terlalu berharap bahwa akan ada yang berubah dari Presiden. Dalam tiga tahun pemerintahannya ke depan kita harus menerima kenyataan bahwa segala kebijakan akan diambil dengan pertimbangan yang sangat hati-hati dan kelirulah kita jika berharap akan ada keputusan yang diambil secara cepat.
Presiden juga menguraikan bahwa dalam keyakinannya, tidak ada kewenangan yang boleh didelegasikan. Oleh karena itu dirinya ikut turut campur tangan langsung atas setiap kebijakan yang akan dikeluarkan kementerian. Ia ingin tahu secara detil landasan dari kebijakan yang hendak diambil.
Dengan gaya kepemimpinan seperti itu tidak usah heran apabila kebijakan yang bersifat teknis pun sekarang ini begitu lamban dilakukan kementerian. Kalau Presiden ingin tahu secara detil dan bahkan terlibat secara langsung, wajar apabila proses pengambilan keputusan menjadi lebih panjang.
Dalam manajemen modern yang mengutamakan kecepatan, memang gaya kepemimpinan ini bisa jadi sangat tidak cocok. Apalagi jika pendelegasian kewenangan tidak dipahami sebagai sesuatu yang penting dilakukan. Namun itulah gaya kepemimpinan SBY, yang mau tidak mau kita terima karena kita sudah memberikan kepercayaan kepada dirinya.
Memang kita menjadi agak rancu ketika Presiden menyampaikan pentingnya pemimpin untuk membangun tim. Kerja tim hanya bisa berjalan dengan baik apabila ada kepercayaan satu dengan yang lain. Pendelegasian wewenang kepada menteri untuk menangani persoalan teknis merupakan cerminan dari kepercayaan dan kemauan untuk membangun kerja tim.
Sehebat apa pun orang itu, tidaklah mungkin ia bisa mengerjakan semuanya. Selain keterbatasan secara fisik, kita tidak mungkin menghindar dari perjalanan waktu. Kita harus menerima kenyataan bahwa satu hari itu hanya 24 jam dan mustahil dalam keterbatasan waktu kita lalu ingin menangani semua persoalan.
Oleh karena itulah tantangan seorang pemimpin adalah bagaimana memberdayakan seluruh kekuatan di dalam tim. Kita harus membangun sebuah sistem dan nilai yang memungkinkan orang yang bekerja bersama kita bekerja berdasarkan aturan yang kita tetapkan itu.
 Pemimpin pada akhirnya adalah sosok orang yang mampu meyakinkan orang lain untuk melakukan hal yang belum tentu ia sukai. Namun dengan kemampuan untuk menjelaskan tujuan yang akan dicapai apabila kita melakukan itu, orang akan bisa dipengaruhi untuk mau melaksanakan apa yang diinginkan seorang pemimpin.
 Pada akhirnya kepemimpinan tidak cukup hanya memuaskan sang pemimpin saja. Kepemimpinan harus bisa menghasilkan. Kepemimpinan harus mencapai tujuan besar yang hasilnya bisa dirasakan oleh semu pihak. Kepemimpinan pada sebuah negara harus bisa memuaskan seluruh rakyat.
 Presiden SBY menyadari bahwa masyarakat sangat mendambakan hasil yang bisa segera dirasakan. Namun sebuah kebijakan tidak bisa segera dirasakan hasilnya. Yang bisa segera dirasakan hasilnya adalah adalah kemajuan dari langkah kebijakan yang dikeluarkan.
Untuk itulah kepemimpinan pada sebuah pemerintahan dan juga perusahaan tidak bisa hanya bertumpu pada orientasi jangka panjang. Kepentingan jangka pendek harus juga menjadi perhatian. Bahkan harus ada yang cepet dirasakan agar masyarakat tidak kemudian menjadi frustasi.
 Untuk itulah dalam ilmu ekonomi dikenal apa yang dikatakan sebagai quick fix. Sebab, pada jangka panjang bisa-bisa semuanya sudah tidah berdaya, in the long run we all dead.

Kelebihan dan Kekurangan masa SBY

v  Kelebihan
·         Klaim 1 : Harga BBM diturunkan hingga 3 kali (2008-2009), pertama kali sepanjang sejarah.
·         Klaim 2 : Perekonomian terus tumbuh di atas 6% pertahun, tertinggi setelah orde baru.
·         Klaim 3 : Cadangan devisa pada tahun 2008 US$ 51 miliar, tertinggi sepanjang sejarah.
·         Klaim 4 : Cadangan devisa pada tahun 2008 US$ 51 miliar, tertinggi sepanjang sejarah.
·         Klaim 5 :Rasio hutang negara terhadap PDB terus turun dari 56% pada tahun 2004 menjadi 34% pada tahun 2008.
·         Klaim 6 :Utang IMF lunas.
·         Klaim 7 :CGI dibubarkan.
·         Klaim 8 :Mengadakan program-program pro-rakyat seperti: BLT, BOS, Beasiswa, JAMKESMAS, PNPM Mandiri, dan KUR tanpa agunan tambahan.
·         Klaim 9 :Anggaran pendidikan naik menjadi 20% dari APBN, pertama kali sepanjang sejarah.
·         Klaim 10 :Pelayanan kesehatan gratis bagi rakyat miskin. Anggaran kesehatan naik 3 kali lipat dari sebelumnya, tertinggi sejak orde baru.
·         Klaim 11 :Korupsi diberantas tanpa pandang bulu. Lebih dari 500 pejabat publik diproses secara hukum, tertinggi sejak merdeka.
·         Klaim 12 :Pengangguran terus menurun. 9,9% pada tahun 2004 menjadi 8,5% pada tahun 2008.
·         Klaim 13 :Kemiskinan terus turun 16,7% pada tahun 2004 menjadi 15,4% pada tahun 2008.

Kekurangan


Sejumlah kegagalan dan kekurangan yang masih terjadi adalah kepastian hukum belum sepenuhnya terwujud, masih maraknya korupsi, birokrasi yang dianggap belum mencerminkan good governance, kerusakan lingkungan hidup, infrastruktur yang masih kurang memadai, serta biaya politik yang masih tinggi, terutama dalam pilkada. Presiden SBY juga mencatat, gangguan terhadap kerukunan dan toleransi serta sejumlah aksi kekerasan yang mengganggu keamanan dan ketertiban publik masih kerap dijumpai.


Sumber : 
http://bagongmendem.blogspot.com/2012/09/kelebihan-dan-kekurangan-masa-sby.html 
http://metrotvnews.com /read/tajuk /2011/06/09/788/Itulah-Gaya-Kepemimpinan- SBY 
http://www.scribd.com/doc/24364039/Analisa-Politik?autodown=doc 
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=104668